Rabu, 02 Januari 2013

Sosialisasikan “Kota Pendidikan” melalui Film Pendek

Salah satu adegan abah sedang marah ketika mendengar Sandy akan melanjutkan pendidikannya ke Jogja
Salah satu visi kota yogyakarta ialah sebagai kota pendidikan yang berkualitas nampaknya harus dijaga dan dipertahankan. Dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional DIY dan CV Kalika Multimedia Budaya mencoba mensosialisasikan Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang kondusif, nyaman dan aman salah satunya dengan memproduksi film pendek iklan layanan masyarakat berjudul “Yogyakarta Pendidikan Masa Depan”. Iklan layanan masyarakat ini rencana akan ditampilkan pada televisi lokal dan nasional serta ketika ada pameran pendidikan berlangsung.

Film pendek yang berdurasi 20 menit ini berkisah tentang Seorang remaja asal Palembang yang baru saja lulus dari SLTA dan berkeinginan melanjutkan pendidikan ke Perguruan tinggi di Yogyakarta. Sayangnya, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di jogja ditentang oleh orang tua dengan alasan ketidakamanan dan kekhawatiran abah akan tidak ada yang membantu meneruskan usahanya jika anak satu-satunya itu keluar Palembang. Berbekal surat panggilan diterima di Program S1 Sastra Inggris salah satu perguruan tinggi di yogyakarta dengan beasiswa penuh serta keinginan yang kuat akhirnya sandi memutuskan meneruskan pendidikannya ke Yogyakarta walaupun belum mendapatkan restu dari abah dan emak.

Menjalani rutinitas kesibukan sebagai mahasiswa dan aktif berorganisasi di kampusnya sandy juga bekerja paruh waktu sebagi jurnalis kontributor lepas di salah satu koran harian di jogja dan menjadi tour guide serta membuka agen wisata bersama teman kampusnya untuk menambah penghasilan agar bisa tetap terus bertahan di Jogja dan menyelasikan kuliahnya. Ia menikmati semua ini karena ia merasa Yogyakarta dipenuhi dengan keramahan dan kehangatan orang-orang disekitarnya.

Berhasil menselaikan program sarjananya dengan baik akhirnya sandy berkeinginan melanjutkan S2 nya sambil mengembangkan usaha agen wisata yang dimilkinya di Yogyakarta, dan selang beberapa tahun usaha agen wisata ini berkembang pesat hingga ke mancanegara. Meras sudah cukup bekal pulang dan telah menselesaikan program sarjana dan pasca sarjananya sandy memutuskan pulang kerumahnya. Dan disambut penyesalan abah dan emaknya, sandy membuktikan bahwa jogja adalah kota pendidikan yang aman, layak, dan nyaman. Bahkan karena dijogja sandy mengenal makna perjuangan.

Menurut Decky Leos sutradara film ini tak begitu banyak kesulitan menggarap film pendek ini karena para kru dan pemain melakukan komunikasi dan persiapan yang baik. Begitu juga menurut tokoh Sandy yang diperankan oleh Falery Effendi Mahasiswa asal Palembang yang mengambil pendidikan di salah satu perguruan tinggi dijogja mengaku tak begitu kesulitan memainkan peran sandy karena sebagian alur cerita dalam film memang beberapa banyak yang dia alami dalam kehidupannya.

Sutradara : Decky Leos
Pimpinan Produksi : Kristiana Wulandari
Director of Photography : I Wayan Nain Febri
Penulis Naskah : Ika Ayu
Pemain : Sandy : G Falery Effendi
Abah : Dadang Ihmawan
Emak : Nurmilisani

1 komentar:

  1. Menurut anda sendiri apa kelebihan dan kekurangan dari film tersebut??

    BalasHapus